NGO dalam masyarakat seringkali difahami sebagai organisasi yang berpedoman pada nilai spesifik yang dianut, dan umumnya terlibat dalam misi dan pelayanan yang beragam mulai dari advokasi, pendidikan, pengembangan masyarakat, kemanusiaan, hingga pemanfaatan dan konservasi lingkungan demi kualitas masyarakat yang lebih baik. Tulisan ini fokus kepada NGO yang terlibat pada program sustainable environment and community development yang memperhatikan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Sebagai unit independen yang terpisah dari pemerintah dan private sector, NGO umumnya berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat sipil. Menilik kategori NGO yang disampaikan oleh Willets (2002) , NGO yang didiskusikan dalam tulisan ini merujuk pada operational NGO yang mana aktivitas utamanya adalah proyek pengembangan/pembangunan untuk kelompok masyarakat tertentu (terutama marginalized dan disadvantaged communities).
Perjalanan berbagai program dalam mewujudkan sustainable forest and land management yang melibatkan NGO (internasional, nasional, maupun lokal) mencatat keberhasilan peran mereka dalam peng-implementasi-annya. Peran tersebut dirangkum sebagai informal backbone support yang meliputi (namun tentu saja tidak terbatas pada) penyusunan desain, supervision, technical advisory and technical assistance, serta monitoring dan evaluasi.
- Penyusunan desain
NGO seringkali memiliki kecakapan dalam menciptakan momentum untuk menterjemahkan local demand ke dalam tujuan nasional bahkan global. NGO dengan kapasitas sumberdaya dan penguasaan terhadap susbstansi, pengetahuan yang cukup tentang kebijakan nasional dan daerah maupun dinamika sosial politik, akan lebih mudah menyusun desain yang membantu pelaksana mencapai tujuan program dengan efektif dan efisien.
- Supervision
Dinamis, kata pertama yang menggambarkan program yang melibatkan peran aktif masyarakat sebagai pelaku. Sehingga adaptif menjadi kunci keberhasilan pencapaian tujuan yang perlu dimulai sejak testing period of program design yang sangat dimungkinkan perlunya penyesuaian maupun penyederhaan dalam periode pelaksanaan program.
Penyederhaan tak hanya bertujuan untuk merangkul lebih banyak masyarakat, namun juga untuk membangun kesepahaman antara pemilik program dan para pelaksananya. Melalui close supervision kapasitas para pihak yang terlibat dapat ditangkap sehingga dapat diramu untuk membangun kesepahaman sebagai sebuah sistem. Dari pemahaman sistemik tersebut maka seluruh pihak yang terlibat akan memahami kontribusi yang diharapkan dari masing-masingnya.
- Technical Advisory dan Technical Assistance
Dari segi technical advisory, NGO yang juga kini berperan di arena politik. Akan memfasilitasi perspektif – aspirasi – minat, dari masyarakat sipil untuk disampaikan dalam proses penyusunan kebijakan. Hal ini membantu terciptanya pembangunan masyarakat yang inklusif dan pertumbuhan sosial yang adil. Dalam skala yurisdiksi, bermacam program akan selalu datang dan pergi yang justru menggaris bawahi pentingnya leadership dan rasa memiliki dari pemerintah (provinsi dan daerah) untuk mengoptimalkan dan menuntaskan program yang akan/sedang diadopsi. Technical advisory skill yang dimiliki oleh NGO ditambah dengan Leadership yang kuat dan rasa memiliki, akan memuluskan pengarusutamaan ke dalam kebijakan dan visi daerah sehingga implementasi program lebih mudah dan lebih bersifat jangka panjang.
Di dua dekade menjelang berakhirnya abad ke-20, NGO melebarkan perannya tidak hanya di level grassroots namun juga sebagai advisors bagi pemerintah hingga lembaga internasional.
Keterbatasan kapasitas masyarakat lokal dan masyarakat Adat (Indigenous People and Local Communities/IPLCs) kian menegaskan kebutuhan IPLC terhadap kehadiran NGO lokal untuk menyediakan technical assistance melalui skills training dan capacity building. Observasi penting dilakukan sebelum menentukan langkah apa yang harus diambil. Ketidakseimbangan kapasitas antar pihak ditambah dengan kesenjangan kuasa akan melahirkan tantangan tersendiri dalam implementasi program. Di sinilah dialog diperlukan untuk mutual adjustment.
- Monitoring and Evaluation (M&E)
M&E berperan penting untuk mengetahui intervensi apa yang diperlukan, kapan saat yang tepat, dan dimana intervensi harus dilakukan agar program tetap berjalan ke arah yang diinginkan. Dari hasil M&E lah diketahui distribusi financing dan sumberdaya (baik manusia maupun infrastruktur) harus diarahkan ke mana, sebesar apa, dalam periode berapa lama sehingga efisiensi program dapat dioptimalkan dan kegagalan dapat dihindarkan.
- Empowerment
NGO juga memiliki kemampuan sebagai motor penggerak terutama bagi kaum perempuan dan pemuda dalam program terkait dengan Sustainable Community Development. Empowerment di sini mengikuti definisi yang diberikan oleh Zimmerman and Rappaport (1988)[1] yaitu “kemampuan individu dalam mendapatkan kontrol sosial, politik, ekonomi, dan psikologis melalui akses terhadap informasi, pengetahuan dan keterampilan, pengambilan kebijakan serta efikasi diri, partisipasi masyarakat, dan penguasaan yang melekat”.
